Mengapa disaat aku ingin mencoba pengalaman baru ada saja penghalangnya. Tetapi hanya 1
penghalang terberat yakni orang tua. Entah karena apa orang tua selalu tidak
setuju jika aku ingin mencoba hal baru. Orang tua selalu melarang ini itu. Dan
selalu menuruti berbagai macam keinginannya. Orang tua tidak mengerti bahwa
anaknya ingin sesuatu yang baru dalam kesehariannya. Orang tua selalu
mementikan ego, tanpa memikirkan perasaan anaknya bahwa anaknya sudah muak
dengan kelakuan mereka. Mungkin menurut mereka itu yang terbaik, tapi kadang
tidak terbaik untuk anaknya sendiri. Aku tak mengerti bagaimana cara berpikir
orang tua jaman sekarang. Aku sangat tak mengerti. Wajar kalau orang tua takut
jika anaknya berada dijalan negatif. Meskipun aku sudah bertumbuh dewasa, orang
tua selalu menggangap aku ini masih seperti anak kecil yang berumur tiga tahun
yang masih belajar jalan dimana hal tersebut harus dibimbing oleh kedua orang
tua. Jujur, aku kadang iri melihat orang lain yang bebas maksudnya bebas disini
ialah melakukan hal baru, contohnya hiking. Aku juga kadang iri kalau ada
seorang anak perempuan dekat dengan ibu ataupun ayah, yang diantara mereka bisa
menjadi tempat curhat. Sharing berbagai hal, saling support. Tapi aku? Mungkin
kalian akan tau sendiri bagaimana keadaanku, kalian bisa tau keadaanku dari
awal cerita ini. Ya keseharianku tidak jauh-jauh dari rumah dan kampus. Aku
bingung sampai kapan aku seperti ini. Stuck disini gegara orang tua. Jika aku
memberontak orang tua akan marah besar dan bilang “Kamu berani sama kami, kamu
keluar saja dari rumah. Dasar anak nggak tau diri!.” Sedih. Sedih dengar mereka
bilang kata-kata itu. Kata-kata dari orang tua yang sangat aku cinta dan aku
sayang. Padahal aku berontak karena mereka salah paham. Mereka terlalu
berlebihan. Terkadang disini aku sangat merindukan masa kanak-kanak. Masa
dimana semua itu dibawa happy. Tidak banyak pikiran, tidak mempedulikan tentang
cinta, tidak akan bikin orang tua jengkel. Aku rindu dimana aku masih kecil.
Orang tua jelas jarang marah, tidak over protectif menjaga aku seperti sekarang
ini.
***
Aku akan mencoba hal baru tanpa orang tua tau. Aku ijin dengan mereka
ingin menginap tempat teman yang letaknya sekitar 1-2 jam. Aku nggak berani
jujur, kalaupun jujur aku yakin banget bakal nggak disetujuin. Kalian tau aku
kemana? Yang pasti bukan nginap tempat teman, ya ndaki. Aku dari smp atau sma
memang ingin banget berteman dengan alam. Akhirnya aku sama beberapa temanku
bisa sampai puncak Merbabu. Walaupun bukan puncak yang tertinggi, tapi aku
sangat bangga. Setidaknya aku bisa merasakan alam dari dekat. Bersentuhan
dengan alam. Ngecamp ditemani berbagai bintang-bintang terang dilangit. Dan
akupun bisa lebih dekat dengan awan, sebanding dengan awan, lebih tinggi dari
awan. Betapa indahnya. Sementara itu, aku yakin pasti ibuku disana sudah
menelpon beberapa kali. Waktu itu hp aku sedang lowbat. Sesampainya dirumah jam
10 malam jadilah aku kena marah besar. Anehnya disitu, mengapa orang tuaku
takut kalau pas daki itu ada cowok? daki itu memang butuh cowok. Tenaga cowok.
Anehnya lagi, ibuku sampai bilang,
“Kamu
setenda sama cowok nggak? Kamu nggak mikir apa kalau cowok itu apa-apain kamu.
Pikiranmu masih seperti anak kecil.” Itulah pemikiran ibu.
“Nggak
mikir juga apa, mana ada digunung diapa-apain kayak gitu. Disini yang pikirnya
anak kecil siapa? Bukannya suruh istirahat, atau cerita disana gimana. Ini
malah kena marah. Emang aku salah nggak bilang jujur dari awal. Kalaupun jujur
dan dibolehin aku juga nggak mau berbohong.” Batinku. Ya hanya
berani bilang dalam hati. Dipendam. Kalaupun bilang itu juga percuma.
Memang nggak ada yang mengerti perasaanku.
Sampai kapan aku diginiin? Dan aku
tak tau jawabannya.
Hati aku berniat untuk lebih mendekat dengan alam, meskipun
aku tau orang tua tidak begitu menyukainya. Aku berkeinginan mengabiskan waktu
masa mudaku ini untuk menjelajah dunia dan berkarya, ingat kamu hanya
menjelajahi masa muda satu kali saja. Kalian tidak mau kan, jika masa muda
kalian begitu-begitu saja, terasa hampa. Meskipun tenaga aku masih belum
tertalu kuat, masih terlalu lemah, aku yakin aku pasti bisa. Jarang anak muda
mencintai alam. Biasanya masa muda di habiskan untuk kesenangan duniawi. Target
aku sendiri, aku bisa sampai puncak Semeru atau Rinjani. Meskipun Semeru sangat
berbahaya tapi aku yakin, aku bisa. Semoga orang tuaku lambat laun bisa
mendukung dalam perubahanku ini. Tunggu cerita pengalamanku selanjutnya. Saat ini
aku baru ndaki, Merbabu dan Prau. Merbabu belum sampai puncak tertinggi. Suatu
saat aku akan remidi Merbabu, harus bisa sampai puncak.
“Hidup itu seperti Gunung, selalu lebih jauh, lebih tinggi dan lebih berat medannya dari pada yang terlihat.” – by Hendri Agustin.
“Setiap gunung punya keajaiban dan keunikan.” – by Hendri Agustin

