Minggu, 03 Mei 2015

Mengapa disaat aku ingin mencoba pengalaman baru ada saja penghalangnya. Tetapi hanya 1 penghalang terberat yakni orang tua. Entah karena apa orang tua selalu tidak setuju jika aku ingin mencoba hal baru. Orang tua selalu melarang ini itu. Dan selalu menuruti berbagai macam keinginannya. Orang tua tidak mengerti bahwa anaknya ingin sesuatu yang baru dalam kesehariannya. Orang tua selalu mementikan ego, tanpa memikirkan perasaan anaknya bahwa anaknya sudah muak dengan kelakuan mereka. Mungkin menurut mereka itu yang terbaik, tapi kadang tidak terbaik untuk anaknya sendiri. Aku tak mengerti bagaimana cara berpikir orang tua jaman sekarang. Aku sangat tak mengerti. Wajar kalau orang tua takut jika anaknya berada dijalan negatif. Meskipun aku sudah bertumbuh dewasa, orang tua selalu menggangap aku ini masih seperti anak kecil yang berumur tiga tahun yang masih belajar jalan dimana hal tersebut harus dibimbing oleh kedua orang tua. Jujur, aku kadang iri melihat orang lain yang bebas maksudnya bebas disini ialah melakukan hal baru, contohnya hiking. Aku juga kadang iri kalau ada seorang anak perempuan dekat dengan ibu ataupun ayah, yang diantara mereka bisa menjadi tempat curhat. Sharing berbagai hal, saling support. Tapi aku? Mungkin kalian akan tau sendiri bagaimana keadaanku, kalian bisa tau keadaanku dari awal cerita ini. Ya keseharianku tidak jauh-jauh dari rumah dan kampus. Aku bingung sampai kapan aku seperti ini. Stuck disini gegara orang tua. Jika aku memberontak orang tua akan marah besar dan bilang “Kamu berani sama kami, kamu keluar saja dari rumah. Dasar anak nggak tau diri!.” Sedih. Sedih dengar mereka bilang kata-kata itu. Kata-kata dari orang tua yang sangat aku cinta dan aku sayang. Padahal aku berontak karena mereka salah paham. Mereka terlalu berlebihan. Terkadang disini aku sangat merindukan masa kanak-kanak. Masa dimana semua itu dibawa happy. Tidak banyak pikiran, tidak mempedulikan tentang cinta, tidak akan bikin orang tua jengkel. Aku rindu dimana aku masih kecil. Orang tua jelas jarang marah, tidak over protectif menjaga aku seperti sekarang ini.

***

Aku akan mencoba hal baru tanpa orang tua tau. Aku ijin dengan mereka ingin menginap tempat teman yang letaknya sekitar 1-2 jam. Aku nggak berani jujur, kalaupun jujur aku yakin banget bakal nggak disetujuin. Kalian tau aku kemana? Yang pasti bukan nginap tempat teman, ya ndaki. Aku dari smp atau sma memang ingin banget berteman dengan alam. Akhirnya aku sama beberapa temanku bisa sampai puncak Merbabu. Walaupun bukan puncak yang tertinggi, tapi aku sangat bangga. Setidaknya aku bisa merasakan alam dari dekat. Bersentuhan dengan alam. Ngecamp ditemani berbagai bintang-bintang terang dilangit. Dan akupun bisa lebih dekat dengan awan, sebanding dengan awan, lebih tinggi dari awan. Betapa indahnya. Sementara itu, aku yakin pasti ibuku disana sudah menelpon beberapa kali. Waktu itu hp aku sedang lowbat. Sesampainya dirumah jam 10 malam jadilah aku kena marah besar. Anehnya disitu, mengapa orang tuaku takut kalau pas daki itu ada cowok? daki itu memang butuh cowok. Tenaga cowok. Anehnya lagi, ibuku sampai bilang,
“Kamu setenda sama cowok nggak? Kamu nggak mikir apa kalau cowok itu apa-apain kamu. Pikiranmu masih seperti anak kecil.” Itulah pemikiran ibu.
“Nggak mikir juga apa, mana ada digunung diapa-apain kayak gitu. Disini yang pikirnya anak kecil siapa? Bukannya suruh istirahat, atau cerita disana gimana. Ini malah kena marah. Emang aku salah nggak bilang jujur dari awal. Kalaupun jujur dan dibolehin aku juga nggak mau berbohong.” Batinku. Ya hanya berani bilang dalam hati. Dipendam. Kalaupun bilang itu juga percuma. Memang nggak ada yang mengerti perasaanku.

Sampai kapan aku diginiin? Dan aku tak tau jawabannya. 

Hati aku berniat untuk lebih mendekat dengan alam, meskipun aku tau orang tua tidak begitu menyukainya. Aku berkeinginan mengabiskan waktu masa mudaku ini untuk menjelajah dunia dan berkarya, ingat kamu hanya menjelajahi masa muda satu kali saja. Kalian tidak mau kan, jika masa muda kalian begitu-begitu saja, terasa hampa. Meskipun tenaga aku masih belum tertalu kuat, masih terlalu lemah, aku yakin aku pasti bisa. Jarang anak muda mencintai alam. Biasanya masa muda di habiskan untuk kesenangan duniawi. Target aku sendiri, aku bisa sampai puncak Semeru atau Rinjani. Meskipun Semeru sangat berbahaya tapi aku yakin, aku bisa. Semoga orang tuaku lambat laun bisa mendukung dalam perubahanku ini. Tunggu cerita pengalamanku selanjutnya. Saat ini aku baru ndaki, Merbabu dan Prau. Merbabu belum sampai puncak tertinggi. Suatu saat aku akan remidi Merbabu, harus bisa sampai puncak.

“Hidup itu seperti Gunung, selalu lebih jauh, lebih tinggi dan lebih berat medannya dari pada yang terlihat.” – by Hendri Agustin.
“Setiap gunung punya keajaiban dan keunikan.” – by Hendri Agustin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar